Strategi Elektrifikasi Volvo: Melewati Rintangan dengan EX60 dan Inovasi AI
Volvo meluncurkan EX60 sebagai upaya 'redo' dalam perjalanan EV-nya, fokus pada arsitektur perangkat lunak baru dan integrasi AI, sambil beradaptasi dengan pasar yang berubah.
Volvo dulunya memiliki ambisi untuk sepenuhnya meninggalkan bisnis mobil bertenaga bensin. Namun kini, produsen mobil asal Swedia ini berjuang untuk mempertahankan pijakannya di pasar kendaraan listrik (EV) yang terus berkembang. Perjalanan Volvo di segmen EV bisa dibilang tidak mulus, meskipun model seperti EX40 telah menjadi favorit. Sebaliknya, EX90 yang seharusnya menjadi pernyataan berani untuk masa depan, justru menghadapi masalah perangkat lunak yang memaksa Volvo melakukan penggantian perangkat keras yang mahal. Sementara itu, peluncuran EX30 yang lebih kecil terhambat oleh tarif, yang akhirnya menyebabkan penghentian penjualannya di AS. Namun, dengan hadirnya SUV kompak EX60, Volvo berharap dapat kembali menemukan momentum di pasar EV.
Pekan ini, para eksekutif puncak Volvo berkumpul di New York City untuk menandai debut EX60 di AS dan merayakan pembukaan pemesanan untuk pengiriman kepada pelanggan yang dijadwalkan pada musim panas ini. Dengan harga mulai $59.795, EX60 generasi terbaru akan lebih mahal dari XC60 crossover bertenaga bensin standar, yang baru-baru ini menjadi model terlaris sepanjang masa Volvo. Namun, harganya lebih terjangkau daripada XC60 plug-in hybrid, yang menunjukkan preferensi pasar terhadap kendaraan hybrid saat ini. Peluncuran EX60 terjadi di tengah lingkungan yang menantang bagi EV, ditandai dengan penghapusan insentif pajak federal EV senilai $7.500 di AS, perubahan kebijakan, dan tarif yang membuat kendaraan menjadi lebih mahal. Meskipun penjualan EV tumbuh secara global, pasar Amerika sedang mengalami perlambatan. Volvo yakin fitur-fitur unggulan EX60—jarak tempuh 400 mil, pengisian cepat 10-80 persen dalam 18 menit, dan pembaruan perangkat lunak OTA ( over-the-air ) yang berkelanjutan—akan cukup untuk mengatasi tantangan ini.
Transformasi Strategi Elektrifikasi Volvo
Dalam menghadapi dinamika pasar yang berubah, rencana awal Volvo untuk menghentikan penjualan kendaraan bertenaga bensin sepenuhnya terus berevolusi. Permintaan EV yang melambat dan kekhawatiran tentang infrastruktur pengisian daya telah menyebabkan beberapa produsen untuk mempertimbangkan kembali seberapa cepat mereka dapat beralih dari kendaraan bertenaga bensin. Volvo sebelumnya menyatakan akan berhenti menjual kendaraan dengan mesin pembakaran internal pada tahun 2030, namun kini tidak memiliki tanggal yang ketat. Selain itu, produsen mobil ini juga akan memperluas cakupannya untuk menyertakan kendaraan plug-in hybrid dan EV dengan jangkauan diperpanjang (EREV), sebuah posisi yang mencerminkan tren industri secara keseluruhan.
Håkan Samuelsson, CEO Volvo, berpendapat bahwa ini adalah waktu yang tepat untuk memperkenalkan mobil listrik seperti EX60, meskipun ada berbagai perdebatan di pasar. "Saya akan mengatakan ya, karena kami pikir mobil ini tidak akan terelektrifikasi dengan subsidi atau insentif. Ini akan terelektrifikasi... karena kami dapat menawarkan sesuatu yang lebih baik kepada konsumen," ujarnya. Pandangan ini menyoroti pergeseran fokus dari ketergantungan pada stimulus pasar menjadi proposisi nilai yang kuat bagi konsumen.
EX60: Era Baru Inovasi Kendaraan Listrik
EX60 mewakili awal yang baru bagi Volvo. Anders Bell, CTO Volvo, menjelaskan bahwa perusahaan memulai dengan "lembaran kosong," sengaja menghilangkan asumsi-asumsi mesin pembakaran internal dari proses rekayasa. Untuk mencapai hal ini, Volvo membangun kembali proses pengembangannya di sekitar arsitektur yang lebih modern, yang didefinisikan oleh perangkat lunak. Pendekatan ini merupakan kunci untuk menciptakan platform yang lebih adaptif dan responsif terhadap inovasi yang cepat di industri otomotif, mirip dengan cara perusahaan teknologi berinovasi.
Kini, semua pelajaran berharga dari pengalaman EV sebelumnya, termasuk tantangan perangkat lunak, telah diintegrasikan ke dalam seluruh proses pengembangan EX60. Dengan demikian, diharapkan EX60 akan menghadirkan pengalaman yang jauh lebih stabil dan andal. Peluncuran EX60 ke pasar menempatkannya dalam persaingan ketat dengan kendaraan populer seperti Tesla Model Y, serta EV yang menjanjikan lainnya seperti Rivian R2 dan BMW iX3. Ini menunjukkan betapa kompetitifnya pasar EV saat ini, di mana inovasi teknologi dan keandalan menjadi faktor penentu.
Arsitektur Berbasis Perangkat Lunak dan Pembaruan OTA
Salah satu fitur utama EX60 adalah siklus reguler pembaruan perangkat lunak. Bell menyatakan bahwa Volvo akan merilis pembaruan besar untuk pelanggan setiap tiga bulan. Ia berpendapat bahwa kualitas meningkat ketika beberapa kendaraan berbagi arsitektur digital yang sama, memfasilitasi perbaikan dan peningkatan secara efisien. Dalam pengujian, EX60 terasa jauh lebih stabil dibandingkan EV Volvo sebelumnya pada tahap pengembangan yang sama. Kemampuan untuk menyediakan pembaruan over-the-air ini sangat penting untuk memperbaiki bug, meningkatkan fungsionalitas, dan menambahkan fitur baru sepanjang masa pakai kendaraan.
Perusahaan teknologi seperti ARSA Technology juga berfokus pada pengembangan sistem berbasis perangkat lunak yang dapat diperbarui secara berkala, menawarkan fleksibilitas dan peningkatan berkelanjutan. Misalnya, melalui AI Box Series, ARSA menyediakan sistem AI yang terkonfigurasi di perangkat tepi yang menerima pembaruan untuk meningkatkan kemampuan analitik dan keamanan. Kemampuan untuk memperbarui perangkat lunak secara jarak jauh juga merupakan keunggulan dalam menjaga keamanan siber dan memastikan kinerja optimal di seluruh armada.
Integrasi AI dan Android Automotive
Pemanfaatan Android Automotive sebagai sistem operasi inti kendaraan akan memberikan keunggulan bagi Volvo dalam mengintegrasikan fitur-fitur AI yang lebih canggih. Pada konferensi Google I/O baru-baru ini, Volvo mengumumkan bahwa EX60 akan memungkinkan Gemini mengakses kamera eksternal kendaraan. Hal ini memungkinkan chatbot AI tersebut untuk membantu pengemudi menafsirkan marka jalur dan rambu jalan, meningkatkan keselamatan dan kenyamanan berkendara. Lebih lanjut, Volvo berencana untuk menerapkan Gemini ke sekitar 2,5 juta kendaraan yang diproduksi mulai tahun model 2020 melalui pembaruan perangkat lunak over-the-air.
Integrasi AI semacam ini menggambarkan potensi besar data kendaraan dan kecerdasan buatan dalam menciptakan pengalaman berkendara yang lebih intuitif dan aman. Melalui solusi AI Video Analytics, ARSA Technology juga memanfaatkan data visual dari kamera untuk berbagai aplikasi, mulai dari pemantauan keamanan hingga analisis lalu lintas, yang dapat diaplikasikan pada konteks otomotif yang lebih luas. Kemampuan untuk memproses data visual secara cerdas dan memberikan umpan balik real-time kepada pengemudi adalah langkah maju yang signifikan.
Tantangan Pasar dan Visi Global Volvo
Meskipun demikian, Samuelsson menegaskan bahwa EX60 tidak dimaksudkan sebagai mobil "global", melainkan akan dipasarkan terutama di AS dan Eropa. Ia mengamati bahwa industri otomotif global semakin terbagi menjadi dua pasar terpisah: satu berpusat di sekitar Tiongkok dan yang lainnya di sekitar Eropa dan Amerika Utara. Meskipun Volvo memiliki akses ke teknologi Tiongkok melalui hubungannya dengan perusahaan induknya, Geely, produsen mobil ini akan tetap fokus pada konsumen Barat.
Samuelsson juga menyoroti model hybrid masa depan perusahaan, yang menurutnya akan membalik formula hybrid saat ini. Jika sebelumnya kendaraan hybrid cenderung menggunakan mesin pembakaran internal dengan baterai kecil untuk jarak pendek, hybrid baru Volvo akan berfungsi terutama sebagai EV, dengan mesin pembakaran internal sebagai cadangan untuk perjalanan jauh. EREV semacam ini dapat menarik minat konsumen di pasar seperti Amerika yang belum sepenuhnya siap beralih ke kendaraan listrik berbasis baterai sepenuhnya, menawarkan fleksibilitas dan jaminan jangkauan yang lebih jauh. Pendekatan ini menunjukkan adaptasi strategis Volvo terhadap preferensi dan kekhawatiran konsumen.
Kesimpulan
Para eksekutif Volvo mengakui bahwa peluncuran EV perusahaan sebelumnya memang rumit, dengan Bell mengakui bahwa perjalanannya "penuh tantangan." EX90 terus menerima pembaruan perangkat lunak untuk mengatasi masalahnya, dengan pembaruan terbaru memperbaiki lebih dari 20 masalah terpisah dan memperkenalkan peningkatan signifikan pada pengalaman berkendara. Selain EX60, Volvo juga sedang mengembangkan EV baru yang akan menggantikan EX30 yang terjangkau dalam jajarannya. Namun, secara keseluruhan, perusahaan ini berusaha keras untuk menunjukkan bahwa mereka telah belajar dari pengalaman dan siap menghadapi persaingan. "EX60 akan jauh lebih solid," kata Erik Severinson, Chief Commercial Officer Volvo. "Tetapi juga dengan jumlah kendaraan yang akan kami jual, EX60 akan jauh lebih besar. Jadi, lebih banyak pengalaman, lebih banyak kendaraan, lebih banyak konsumen."
Sebagai perusahaan yang telah berpengalaman sejak 2018 dalam mengembangkan solusi AI dan IoT yang praktis dan terbukti, ARSA Technology memahami pentingnya keandalan perangkat lunak, integrasi yang mulus, dan kemampuan untuk beradaptasi dengan kebutuhan pasar yang terus berubah. Transformasi digital dalam industri otomotif, yang terlihat dari upaya Volvo, menyoroti peran sentral teknologi dalam menciptakan masa depan yang lebih efisien dan berkelanjutan.
Untuk mempelajari lebih lanjut tentang bagaimana ARSA Technology dapat membantu Anda dalam transformasi digital dan implementasi solusi AI/IoT yang cerdas, jangan ragu untuk menghubungi tim ARSA untuk konsultasi gratis.
Sumber: The Verge