Ketika Kreativitas Bertemu Algoritma: Menjelajahi Refleksi dan Resistensi Seniman Terhadap AI Generatif
Artikel ini membahas bagaimana komunitas kreatif merespons AI generatif, menyoroti ketegangan antara seni berbasis relasionalitas dan pengembangan AI. Pelajari resistensi dan potensi AI etis.
Perkembangan pesat kecerdasan buatan generatif (GenAI) telah membawa inovasi transformatif di berbagai sektor, namun juga memicu perdebatan sengit, terutama dalam komunitas kreatif. Semakin banyak seniman, yang melihat karyanya sebagai bentuk ekspresi, identitas, dan bahkan perlawanan, menyatakan kekhawatiran mendalam tentang peran AI dalam dunia seni. Sebuah studi akademis baru-baru ini menyoroti bagaimana seniman, khususnya dari komunitas queer, menghadapi dan menolak pengaruh GenAI yang kian besar. Studi berjudul "I Just Don't Want My Work Being Fed Into The AI Blender": Queer Artists on Refusing and Resisting Generative AI oleh Jordan Taylor dkk. dari Carnegie Mellon University (2026), mengungkapkan ketegangan signifikan antara praktik seni yang sangat relasional dan anti-kapitalis dengan persepsi anti-relasionalitas dari pengembangan dan penggunaan GenAI.
Seni sebagai Alat Perlawanan dan Pembentuk Komunitas
Seni memiliki sejarah panjang sebagai alat penting untuk aktivisme politik dan ekspresi dalam komunitas yang terpinggirkan. Selama epidemi AIDS di tahun 1980-an dan 1990-an, seni menjadi medium kuat bagi komunitas LGBTQ+ untuk menantang pengabaian sistematis, menghadapi stigmatisasi, dan menuntut visibilitas serta keadilan. Contohnya, karya Keith Haring yang memprotes stigmatisasi HIV atau “Unfinished Painting” yang melambangkan interupsi hidup akibat AIDS, menunjukkan bagaimana seni bisa menjadi sarana untuk mengenang dan menyuarakan perjuangan.
Sarjana José Esteban Muñoz dalam karyanya menekankan peran vital seni queer tidak hanya dalam mengingat masa lalu yang terpinggirkan tetapi juga dalam membayangkan masa depan yang potensial. Muñoz berpendapat bahwa estetika queer berfungsi sebagai platform dinamis untuk "pembangunan dunia" (world-building), memungkinkan komunitas queer mengartikulasikan visi realitas alternatif dan potensi utopia di luar struktur opresif yang ada. Baginya, seni queer mewujudkan bentuk potensi utopia, menciptakan ruang untuk mengeksplorasi apa yang bisa ada di luar struktur yang menindas. Aspek relasionalitas menjadi inti dari seni ini, menekankan perlunya pemahaman tentang "queerness sebagai kolektivitas," yang menolak alienasi kapitalisme dan heteronormativitas.
Disrupsi oleh AI Generatif dan Kekhawatiran Komunitas Kreatif
Namun, kemunculan GenAI belakangan ini telah secara signifikan mengganggu komunitas seni, termasuk komunitas queer. Kekhawatiran muncul mengenai potensi penyalahgunaan dan komodifikasi kreativitas. Komunitas penggemar daring – yang merupakan lahan subur bagi kreativitas queer dan upaya pembentukan identitas – sangat terpengaruh. Adanya GenAI menimbulkan kekhawatiran tentang penggunaan konten asli tanpa izin untuk melatih model-model AI, serta membanjirnya ruang digital dengan materi yang dihasilkan oleh AI.
Sebagai bentuk perlawanan, beberapa seniman telah melakukan kampanye "peracunan data" (data poisoning) dengan menggunakan konten NSFW, yang menyoroti kecemasan yang lebih luas dan oposisi kolektif terhadap invasi GenAI. Disrupsi ini mengancam praktik berbasis komunitas yang selama ini memelihara ekspresi dan solidaritas queer. Hal ini menimbulkan pertanyaan penting: Bagaimana seniman, terutama dari komunitas kreatif yang punya akar kuat pada ekspresi personal dan kolektif, menavigasi dan merespons pengaruh GenAI yang terus berkembang ini? Studi oleh Taylor dkk. (2026) berusaha menjawab pertanyaan ini melalui wawancara mendalam dengan 15 seniman queer, mengadopsi pemahaman luas tentang seni queer yang mencakup praktik seniman yang mengidentifikasi diri sebagai queer dan bidang estetika queer yang lebih luas. (Sumber: "I Just Don't Want My Work Being Fed Into The AI Blender": Queer Artists on Refusing and Resisting Generative AI)
Ketegangan antara Relasionalitas Seni dan Anti-Relasionalitas AI
Salah satu temuan kunci dari studi ini adalah adanya ketegangan mendalam antara sifat relasional dan anti-kapitalis dari praktik seni partisipan dengan persepsi anti-relasionalitas dalam pengembangan dan penggunaan GenAI. Para seniman melihat praktik seni mereka sebagai sesuatu yang berakar kuat pada koneksi interpersonal, interaksi komunitas, dan perlawanan terhadap sistem eksploitatif. Seni adalah proses kolaboratif, pertukaran ide, dan pembangunan identitas kolektif.
Sebaliknya, GenAI, terutama sistem berbasis prompt yang populer seperti Midjourney atau ChatGPT, seringkali dipandang sebagai teknologi yang memfasilitasi eksploitasi pekerja kreatif. Para seniman khawatir bahwa GenAI secara anonim mengumpulkan karya mereka dari internet untuk melatih model tanpa persetujuan atau kompensasi yang layak, menghilangkan nilai intrinsik dari karya tersebut dan mengancam mata pencarian mereka. Mereka melihat GenAI sebagai entitas yang "mengambil" tanpa "memberi," sebuah manifestasi dari logika kapitalis yang mengasingkan, berbeda dengan sifat inklusif dan berbasis komunitas dari seni mereka. Ini bukan hanya tentang penolakan teknologi, tetapi penolakan terhadap implikasi etika dan dampak sosial yang dirasakan dari cara GenAI dikembangkan dan digunakan.
Taktik Penolakan dan Resistensi terhadap GenAI
Merespons disrupsi ini, para seniman mengadopsi berbagai taktik penolakan dan resistensi terhadap pengembangan dan penggunaan GenAI. Penolakan ini tidak selalu berarti non-penggunaan total, tetapi lebih pada penolakan terhadap dominasi narasi GenAI yang meremehkan peran manusia. Taktik resistensi yang ditemukan dalam studi meliputi:
- Pendidikan dan Advokasi: Seniman secara aktif menyebarkan informasi tentang masalah etika di balik GenAI, mendidik komunitas mereka tentang bagaimana karya seni dapat digunakan tanpa izin, dan mendorong perubahan kebijakan hak cipta.
Perlindungan Data Kreatif: Beberapa seniman mengambil langkah untuk melindungi karya mereka dari di-scraping oleh model AI, seperti menggunakan lisensi khusus atau membatasi akses ke portofolio daring mereka. ARSA Technology sendiri sangat menekankan pentingnya kepemilikan data penuh, menawarkan solusi seperti ARSA AI Video Analytics Software yang sepenuhnya on-premise, memastikan semua data video dan hasil inferensi tetap berada dalam infrastruktur pengguna, tanpa ketergantungan cloud* dan kendali penuh atas privasi.
- Pengembangan Alat Anti-AI: Ada pula upaya untuk mengembangkan alat yang dapat mendeteksi apakah sebuah karya dibuat oleh AI, atau bahkan alat yang sengaja "meracuni" data untuk mengacaukan model AI yang menggunakannya.
- Fokus pada Karya Human-Centric: Banyak seniman memilih untuk lebih menekankan proses kreatif manusia, orisinalitas, dan nilai emosional di balik karya mereka, sebagai bentuk perlawanan terhadap homogenisasi yang dikhawatirkan oleh AI.
Potensi Estetika Terbatas GenAI dalam Seni
Meskipun ada resistensi yang kuat, studi tersebut juga menemukan bahwa para seniman melihat peran GenAI yang terbatas dan sangat spesifik dalam kreasi seni. Salah satu potensi yang diakui adalah kemampuan GenAI untuk menghasilkan citra yang "sureal." Model citra sureal AI dapat menciptakan visual yang aneh, abstrak, dan di luar imajinasi manusia biasa, yang bisa memiliki nilai estetika tersendiri dalam konteks tertentu. Ini membuka pintu bagi eksplorasi estetika yang unik, di mana AI tidak menggantikan kreativitas manusia, melainkan menjadi alat untuk memperluas batas-batas imajinasi.
Namun, potensi ini dipandang sebagai pengecualian, bukan norma. Penggunaan GenAI yang luas tanpa mempertimbangkan dampak etika dan sosialnya masih menjadi perhatian utama. Para seniman menegaskan bahwa nilai sejati seni terletak pada pengalaman manusia, relasionalitas, dan makna yang ditanamkan oleh kreator, bukan hanya pada hasil akhir yang dihasilkan oleh algoritma. Perusahaan teknologi seperti ARSA, yang berpengalaman sejak 2018 dalam mengembangkan solusi AI, memahami pentingnya pendekatan yang mengedepankan manusia (Human-Centered Innovation) dalam setiap desain, yang mencakup etika, privasi, dan kegunaan.
Membangun Masa Depan AI yang Lebih Etis dan Inklusif
Temuan studi ini memiliki implikasi penting bagi para pengembang AI dan peneliti. Ini menyoroti kebutuhan untuk memahami dan mendukung komunitas kreatif dengan menolak imajinari AI yang dominan – yang seringkali mengedepankan efisiensi dan otomatisasi tanpa mempertimbangkan dampak manusia dan sosial. Sebaliknya, perlu ada dukungan untuk "pembangunan dunia" queer yang berakar pada relasionalitas, etika, dan keadilan.
Dalam konteks yang lebih luas, ini berarti merancang sistem AI yang tidak hanya canggih secara teknis tetapi juga etis, transparan, dan bertanggung jawab. Bagi perusahaan yang bergerak di bidang AI dan IoT, seperti ARSA Technology, hal ini berarti berinvestasi dalam solusi yang mengutamakan kontrol data, privasi berdasarkan desain, dan kemampuan untuk menyesuaikan teknologi agar sesuai dengan kebutuhan spesifik komunitas, seperti solusi AI kustom. Dengan begitu, AI dapat menjadi kekuatan yang memberdayakan, bukan mengalienasi, komunitas kreatif.
Memahami perspektif dan kekhawatiran seniman ini sangat penting untuk membentuk masa depan AI yang lebih bertanggung jawab dan inklusif. Alih-alih hanya berfokus pada apa yang bisa dilakukan AI, kita harus bertanya apa yang seharusnya dilakukan AI, dan bagaimana AI dapat mendukung, bukan merusak, kekayaan kreativitas manusia.
Untuk menjelajahi lebih lanjut bagaimana ARSA Technology dapat membantu organisasi Anda memanfaatkan kekuatan AI dan IoT secara etis dan strategis, silakan hubungi tim ARSA untuk konsultasi gratis.