Dunia ritel modern semakin kompleks, terutama dengan adopsi teknologi Artificial Intelligence (AI) yang mendalam. Salah satu fenomena yang kini menjadi sorotan adalah “harga algoritma”, di mana harga suatu produk dapat berbeda antara satu konsumen dengan yang lain, atau antar lokasi, dan semuanya ditentukan oleh algoritma yang menganalisis data pribadi. Ini bukan lagi sekadar penyesuaian harga berdasarkan biaya logistik, melainkan sebuah strategi yang lebih canggih dan kadang kala kurang transparan.
Kisah di balik telur di Target di Amerika Serikat menjadi contoh nyata: sebungkus telur dengan merek yang sama bisa dihargai berbeda di Rochester, New York ($1.99) dan di lingkungan kelas atas Manhattan, Tribeca ($2.29). Perbedaan harga ini, yang mungkin terasa kecil namun signifikan, disinyalir ditentukan oleh algoritma menggunakan data pribadi pelanggan, sebuah praktik yang kini mulai diatur ketat. Bagi para pelaku bisnis di Indonesia, fenomena ini menghadirkan tantangan dan peluang baru, mendorong kita untuk memahami lebih dalam bagaimana AI dan data membentuk masa depan perdagangan.
Fenomena Harga Algoritma: Studi Kasus Global
Kasus Target bukanlah satu-satunya. Selama bertahun-tahun, banyak peritel besar telah menerapkan praktik penentuan harga yang bervariasi berdasarkan lokasi. Target sendiri telah diketahui menyesuaikan harga di situs webnya berdasarkan lokasi toko yang diasosiasikan dengan pengguna. Bahkan, pada tahun 2022, perusahaan ini menyelesaikan gugatan hukum di California yang menuduh penggunaan teknologi geofencing untuk secara otomatis memperbarui harga di aplikasi pelanggan mereka. Saat ini, ketika mengunjungi situs web Target, pengguna masih secara otomatis diasosiasikan dengan toko terdekat, yang menunjukkan betapa meratanya praktik ini.
Di luar produk sehari-hari seperti telur atau tisu toilet, praktik serupa juga ditemukan pada industri lain. Misalnya, pengecer perlengkapan kantor Staples pernah kedapatan menampilkan harga yang berbeda kepada pelanggan di situs web mereka setelah memperkirakan lokasi mereka. Staples beralasan bahwa perbedaan harga terjadi karena faktor geografis seperti biaya sewa, tenaga kerja, distribusi, dan biaya operasional lainnya. Ada juga kasus Princeton Review yang ditemukan oleh ProPublica pada tahun 2015, di mana paket kursus persiapan SAT online mereka dapat bervariasi ribuan dolar berdasarkan kode pos yang diberikan pelanggan, dengan alasan penyesuaian biaya operasional dan kondisi pasar kompetitif.
Regulasi dan Isu Privasi Data di Balik Algoritma Harga
Meningkatnya penggunaan algoritma dalam penentuan harga telah menarik perhatian regulator, terutama terkait isu privasi data. Undang-undang baru di New York State, AS, kini mewajibkan bisnis untuk mengungkapkan jika harga ditetapkan secara algoritmik menggunakan data pribadi pelanggan. Data pribadi didefinisikan secara luas, mencakup data yang dapat “ditautkan atau secara wajar ditautkan, secara langsung atau tidak langsung, dengan konsumen atau perangkat tertentu.” Meskipun demikian, undang-undang tersebut tidak mengharuskan bisnis untuk secara eksplisit menyatakan informasi apa yang digunakan atau bagaimana setiap bagian informasi memengaruhi harga akhir.
Aspek “clear and conspicuous” atau “jelas dan mencolok” dari pengungkapan ini juga menjadi perdebatan. Dalam kasus Target, pelanggan harus mengklik ikon “i” di samping harga dan menggulir ke bawah untuk menemukan informasi ini, yang tidak selalu mudah dijangkau. Di masa lalu, pengadilan telah menyatakan bahwa tidak selalu wajar untuk mengasumsikan pelanggan akan mengklik tautan “informasi lebih lanjut” jika tidak diwajibkan. Ini menimbulkan pertanyaan besar tentang transparansi dan etika dalam penggunaan data. Federal Trade Commission (FTC) sendiri telah memulai studi pasar tentang “surveillance pricing,” yang mencakup penggunaan lokasi pelanggan untuk membantu menetapkan harga, menunjukkan adanya minat regulasi yang lebih luas. Di Indonesia, dengan semakin ketatnya regulasi privasi data, seperti UU Perlindungan Data Pribadi (UU PDP), praktik semacam ini tentu akan menjadi perhatian.
Dampak Harga Algoritma pada Konsumen dan Bisnis
Fenomena harga algoritma memiliki dampak signifikan baik bagi konsumen maupun bisnis. Bagi konsumen, hal ini dapat menciptakan rasa ketidakadilan atau diskriminasi harga, di mana individu dengan profil data tertentu, seperti lokasi geografis atau riwayat pembelian, mungkin membayar lebih mahal untuk produk yang sama. Kurangnya transparansi mengenai bagaimana harga ini ditentukan dapat mengikis kepercayaan pelanggan dan memicu kekhawatiran privasi.
Bagi bisnis, penggunaan algoritma harga dapat meningkatkan profitabilitas melalui optimasi harga yang sangat presisi. Namun, hal ini juga membawa risiko reputasi yang besar jika praktik tersebut dianggap tidak etis atau diskriminatif. Di pasar yang semakin kompetitif seperti Indonesia, menjaga kepercayaan pelanggan dan memastikan praktik bisnis yang bertanggung jawab adalah kunci keberlanjutan. Oleh karena itu, perusahaan harus menemukan keseimbangan antara inovasi teknologi dan kepatuhan etika serta regulasi.
Pemanfaatan Data Secara Etis dan Cerdas untuk Bisnis di Indonesia
Meskipun harga algoritma menimbulkan kekhawatiran, pemanfaatan data secara cerdas dan etis tetap menjadi pilar transformasi digital. Data dapat digunakan untuk mengoptimalkan operasional, meningkatkan pengalaman pelanggan, dan menciptakan efisiensi tanpa harus mengorbankan privasi. Contohnya, di sektor ritel, Smart Retail Counter dari ARSA Technology dapat menganalisis pola pergerakan pengunjung (heatmap), mengelola antrean, dan memberikan wawasan demografi secara anonim.
Wawasan ini memungkinkan bisnis untuk mengoptimalkan tata letak toko, alokasi staf, dan strategi pemasaran, yang pada akhirnya meningkatkan kepuasan pelanggan dan efisiensi operasional, daripada digunakan untuk penyesuaian harga yang diskriminatif. Solusi analitik video AI juga dapat digunakan untuk memantau kepadatan di ruang publik, memastikan keselamatan dan kenyamanan pengunjung, atau bahkan untuk deteksi kepatuhan Alat Pelindung Diri (APD) di lingkungan industri, tanpa perlu mengidentifikasi individu secara spesifik.
Bagaimana ARSA Technology Dapat Membantu?
ARSA Technology, sebagai penyedia solusi AI dan IoT terkemuka di Indonesia, memahami pentingnya memanfaatkan data secara cerdas dan etis. Kami menawarkan berbagai solusi yang dirancang untuk memberikan wawasan operasional yang mendalam sambil tetap memprioritaskan privasi data:
- Real-time Video Analytics: Dengan analitik video AI, ARSA mengubah rekaman CCTV menjadi data strategis yang dapat ditindaklanjuti untuk meningkatkan keamanan, mengoptimalkan layanan, dan meningkatkan efisiensi operasional. Solusi ini mencakup deteksi aktivitas, analisis kerumunan, dan pemantauan kepatuhan tanpa pengumpulan data pribadi yang invasif.
- AI Box dengan Edge Computing: Produk AI Box dari ARSA Technology melakukan pemrosesan data secara lokal (edge computing), yang berarti data tidak meninggalkan properti Anda. Pendekatan “Privacy First” ini memastikan bahwa wawasan berharga dapat diperoleh dari rekaman kamera pengawas Anda tanpa mengorbankan privasi atau memerlukan ketergantungan pada cloud. Ini sangat relevan untuk industri di Surabaya, Yogyakarta, dan seluruh Jawa Timur yang mengutamakan keamanan data.
- Wawasan Ritel Cerdas: Melalui Smart Retail Counter, ARSA membantu peritel mendapatkan pemahaman mendalam tentang perilaku pelanggan, mulai dari penghitungan pengunjung, analisis antrean, hingga visualisasi area populer (heatmap), yang semuanya esensial untuk mengoptimalkan strategi bisnis dan penentuan harga yang adil.
- Sistem Kendaraan dan Parkir Cerdas: Solusi sistem kendaraan dan parkir cerdas dari ARSA Technology menggunakan LPR (License Plate Recognition) untuk otomatisasi akses, klasifikasi kendaraan, dan manajemen parkir yang efisien, memberikan data operasional tanpa melanggar batas privasi individu.
Kami telah berpengalaman sejak 2018 dalam mengembangkan solusi teknologi yang berdampak nyata bagi berbagai sektor industri, dari manufaktur hingga kesehatan. Fokus kami adalah pada inovasi yang memberikan Return on Investment (ROI) terukur melalui peningkatan efisiensi, produktivitas, dan keamanan, bukan manipulasi harga yang tidak transparan.
Kesimpulan
Era harga algoritma adalah cerminan dari bagaimana teknologi AI telah meresap ke dalam setiap aspek bisnis, termasuk penentuan harga. Meskipun menawarkan potensi optimasi keuntungan, ia juga menuntut transparansi dan pertimbangan etis yang lebih besar, terutama terkait privasi data. Bagi bisnis di Indonesia, kunci untuk menavigasi lanskap ini adalah dengan mengadopsi teknologi AI yang tidak hanya cerdas, tetapi juga bertanggung jawab. Memanfaatkan data untuk meningkatkan efisiensi operasional dan pengalaman pelanggan, bukan untuk praktik harga yang ambigu, akan membangun fondasi bisnis yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Kami di ARSA Technology percaya bahwa teknologi harus memberdayakan, bukan mengeksploitasi. Dengan solusi AI dan IoT kami, Anda dapat memperoleh wawasan berharga dan mengoptimalkan operasional Anda, sambil tetap menjaga privasi dan kepercayaan pelanggan Anda.
Konsultasikan kebutuhan AI Anda dengan tim ARSA Technology.






